Tak syak lagi bahwa filsafat telah banyak
menjerumuskan beberapa anak manusia dalam pemikiran dan tingkah lakunya, akal seolah-olah menjadi hal teragung bagi para filosof, pemikiran
konyol mereka sampai pada prinsip ketuhanan yang semestinya tidak bisa dinalar
oleh akal semata, mereka menyangkal adanya Tuhan dan merumuskan kekekalan alam dan
terciptanya alam dengan sendirinya. Nietzsche berujar bahwa “Tuhan telah mati
karena kita telah membunuhnya”. Di antara umat Islam sendiri, Ahmad ibn
al-Rawandi dan Muhammad ibn Zakariya al-Razi merupakan dua tokoh penting yang
menolak kenabian. Ibn al-Rawandi, seorang rasionalis mantan pendukung
Muktazilah, berusaha menghancurkan mukjizat sebagai bagian dari kenabian,
bahkan berjuang keras untuk menghancurkan agama Islam secara keseluruhan. Untuk
itu, ia menulis sejumlah buku. al-Damigh (Argumen yang Tak Terelakkan)
untuk menolak keabsahan Al-Qur'an dan Al-Zumradah untuk menolak
kenabian.[1]
Al-Razi (dokter terbesar dalam Islam bahkan di Abad
Tengah secara keseluruhan) menantang keras kenabian. Agama, menurutnya,
merupakan faktor pemecah belah umat manusia. Sebaliknya, filsafat merupakan
satu-satunya faktor pemersatu.[2]
Untuk memperkuat serangannya, ia menulis Naqd al-Adyan au fi al Nubuwwat (Kritik
terhadap Agama atau Kenabian).
Meskipun
demikian filsafat merupakan kajian penting untuk menelaah suatu pengetahuan dan
menyelidikinya dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal,
dan hukumnya. Dengan filsafat pula para cendekiawan muslim dapat menciptakan
ilmu-ilmu baru yang sampai sekarang pakai seluruh umat manusia. Seperti al
Kindi, ahli matematik, farmakologi, politik, dan lain sebagainya, Ibnu Sina
dengan qonun fi at-tibb-nya (ilmu tentang kedokteran), al-Razi ahli
dalam bidang kimia. Al-Kindi memadukan antara agama dan filsafat, menurutnya,
filsafat adalah pengetahuan yang benar. Al-Qur’an yang yang berisi tentang
argumen-argummen yang benar tidak mungkin bertentangan dengan ebenaran yang
dihasilan filsafat, sedangakan umat islam juga diwajibkan untu mempelajari
teologi. Agam disamping wahyu mempergunakan akal, filsafat juga mempergunakan
akal. Filsafat membahas soal tentang tuhan yang didasarkan agama, filsafat
tentang tuhan ialah filsafat tertinggi.
Dengan demikian, orang yang menolak maka orang
tersebut menurut al-Kindi telah mengingkari kebenaran.
Menurut keterangan beberapa buku filsafat
berasal dari bahasa yunani, yaitu philoshophia, philein (cintai),
dan shopia (kebijaksanaan). Dengan itu philisophia berarti cinta akan
kebijaksanaan. Adapun orang yang berfilsafat disebut dengan filsuf atau
filosof, yaitu orang-orang yang mencitai kebijaksanaan. Secara terminologis
filasafat dipandang sebagai suatu
sikap, metode berpikir, analisis
kritis bahasa dan istilah, pemahaman
yang komprehensif
Filsafat juga merupakan teori yang mendasari
alam pikiran atau suatu kegiatan yang
berintikan logika, estetika, metafisika, ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ciri-ciri persoalan filsafat
|
Ciri-ciri pemikiran filsafat
|
|
Sangat umum,
Tidak semata-mata faktawi
Berkaitan dengan nilai
Sinoptik
Implikatif.
|
Radikal
Kritis
Rasional
Reflektif
Konseptual
Koheren dan
konsisten
Sistematis
Metodis
Komprehensif
Bebas dan Bertanggungjawab
|
Cabang-cabang filsafat
Filsafat
|
Umum
|
Metafisika
|
Ontologi
Kosmologi
Antropologi
|
|
Epistimologi
|
Epistimologi
Dasar
Metodologi
Logika
|
|||
Aksiologi
|
Etika
Estetika
|
|||
Khusus
|
Keilmuan
|
Filsafat Ilmu Umum
|
||
Filsafat Ilmu Khusus
|
Matematika
Fisika
Biologi
Sosial
Psikologi. dll.
|
|||
Bidang Kehidupan
|
Politik
Ekonomi
Hukum
Budaya
Agama
Sejarah. Dll
|
|||
[2]Madkour, Filsafat Islam, I:
110. Lihat juga, Abd al-Rahman al-Badawi, -Muhammad Ibn Zakariya al-Razi"
dalam M.M. Sharif, ed., A History of Muslim Philosophy (Karachi: Royal
Book Company, 1983), I. 446. Yudian Wahyudi, dalam makalahnya Filsafat
Islam

No comments:
Post a Comment
Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga bermanfaat.
Tinggalkan komentar dengan sopan.