2/23/2016

Ngobrol FIlsafat

Tak syak lagi bahwa filsafat telah banyak menjerumuskan beberapa anak manusia dalam pemikiran dan tingkah lakunya, akal seolah-olah menjadi hal teragung bagi para filosof, pemikiran konyol mereka sampai pada prinsip ketuhanan yang semestinya tidak bisa dinalar oleh akal semata, mereka menyangkal adanya Tuhan dan merumuskan kekekalan alam dan terciptanya alam dengan sendirinya. Nietzsche berujar bahwa “Tuhan telah mati karena kita telah membunuhnya”. Di antara umat Islam sendiri, Ahmad ibn al-Rawandi dan Muhammad ibn Zakariya al-Razi merupakan dua tokoh penting yang menolak kenabian. Ibn al-Rawandi, seorang rasionalis mantan pendukung Muktazilah, berusaha menghancurkan mukjizat sebagai bagian dari kenabian, bahkan berjuang keras untuk menghancurkan agama Islam secara keseluruhan. Untuk itu, ia menulis sejumlah buku. al-Damigh (Argumen yang Tak Terelakkan) untuk menolak keabsahan Al-Qur'an dan Al-Zumradah untuk menolak kenabian.[1]


Al-Razi (dokter terbesar dalam Islam bahkan di Abad Tengah secara keseluruhan) menantang keras kenabian. Agama, menurutnya, merupakan faktor pemecah belah umat manusia. Sebaliknya, filsafat merupakan satu-satunya faktor pemersatu.[2] Untuk memperkuat serangannya, ia menulis Naqd al-Adyan au fi al Nubuwwat (Kritik terhadap Agama atau Kenabian).
            Meskipun demikian filsafat merupakan kajian penting untuk menelaah suatu pengetahuan dan menyelidikinya dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Dengan filsafat pula para cendekiawan muslim dapat menciptakan ilmu-ilmu baru yang sampai sekarang pakai seluruh umat manusia. Seperti al Kindi, ahli matematik, farmakologi, politik, dan lain sebagainya, Ibnu Sina dengan qonun fi at-tibb-nya (ilmu tentang kedokteran), al-Razi ahli dalam bidang kimia. Al-Kindi memadukan antara agama dan filsafat, menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang benar. Al-Qur’an yang yang berisi tentang argumen-argummen yang benar tidak mungkin bertentangan dengan ebenaran yang dihasilan filsafat, sedangakan umat islam juga diwajibkan untu mempelajari teologi. Agam disamping wahyu mempergunakan akal, filsafat juga mempergunakan akal. Filsafat membahas soal tentang tuhan yang didasarkan agama, filsafat tentang tuhan ialah filsafat tertinggi.
Dengan demikian, orang yang menolak maka orang tersebut menurut al-Kindi telah mengingkari kebenaran.

Menurut keterangan beberapa buku filsafat berasal dari bahasa yunani, yaitu philoshophia, philein (cintai), dan shopia (kebijaksanaan). Dengan itu philisophia berarti cinta akan kebijaksanaan. Adapun orang yang berfilsafat disebut dengan filsuf atau filosof, yaitu orang-orang yang mencitai kebijaksanaan. Secara terminologis filasafat dipandang sebagai suatu sikap, metode berpikir, analisis kritis bahasa dan istilah, pemahaman yang komprehensif
Filsafat juga merupakan teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan yang berintikan logika, estetika, metafisika, ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Ciri-ciri persoalan filsafat


Ciri-ciri pemikiran filsafat

Sangat umum,
Tidak semata-mata faktawi
Berkaitan dengan nilai
Sinoptik
Implikatif.
Radikal
Kritis
Rasional
Reflektif
Konseptual
Koheren dan konsisten
Sistematis
Metodis
Komprehensif
Bebas dan Bertanggungjawab


Cabang-cabang filsafat

Filsafat
Umum
Metafisika
Ontologi
Kosmologi
Antropologi
Epistimologi
Epistimologi Dasar
Metodologi
Logika
Aksiologi
Etika
Estetika
Khusus
Keilmuan

Filsafat Ilmu Umum

Filsafat Ilmu Khusus
Matematika
Fisika
Biologi
Sosial
Psikologi. dll.
Bidang Kehidupan
Politik
Ekonomi
Hukum
Budaya
Agama
Sejarah. Dll





[1] Madkour, Filsafat Islam, I: 108. Yudian Wahyudi, dalam makalahnya Filsafat Islam
[2]Madkour, Filsafat Islam, I: 110. Lihat juga, Abd al-Rahman al-Badawi, -Muhammad Ibn Zakariya al-Razi" dalam M.M. Sharif, ed., A History of Muslim Philosophy (Karachi: Royal Book Company, 1983), I. 446. Yudian Wahyudi, dalam makalahnya Filsafat Islam

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga bermanfaat.
Tinggalkan komentar dengan sopan.