2/24/2016

Biografi Mulla Sadra

Filsafat Mulla Sadra



Oleh: Akhmad Yusuf
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Filsafat berasal dari kata Yunani, yaitu philoshopia, kata berangkai dari philein yang berarti mencintai dan Sophia berarti kebijaksanaan. Philosophia berarti cinta akan kebijaksanaan (Inggris: love of wisdom, Belanda: wijsbegeerte, Arab: muhibbu al-hikmah). Orang yang berfilsafat atau orang yang melakukan filsafat disebut “filsuf” atau “filosof”, artinya pecinta kebijaksanaan.
Pada zaman dahulu, filsafat islam mengalami perkembangan yang pesat. Perbedaan pemikiran-pemikiran dari satu tokoh filsafat dengan tokoh filsafat lainnya pun kerap terjadi. Salah satu tokoh filsafat islam adalah Mulla Sadra. Pada masa ini perubahan besar terjadi dalam substansi pengkajian dan sistematika pembahasan konsep-konsep ketuhanan dalam filsafat Islam. Sehingga pada masa itu Mulla Sadra dapat memadukan empat aliran yang tadinya mandiri kemudian dapat distukan dengan melahirkan satu aliran yang dia sebut al-Hikmah al-Muta’aliyah.
Aliran baru ini dapat memnfaatkan warisan pemikiran antara pemikiran-pemikiran filsafat Islam dan doktrin-doktrin agama.
B. Rumusan Masalah
1.     Bagaimana biografi dari Mulla Shadra?
2.     Apa sajakah karya Mulla Shadra?
3.     Bagaimana Filsafat Mulla Shadra?
C. Tujuan Penelitian
1.     Untuk mengetahui biografi dari Mulla Shadra
2.     Untuk mengetahui karya dari Mulla Shadra
3.     Untuk mengetahui Filsafat Mulla Shadra?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Biografi
Informasi yang aktual tentang kehidupan Mulla Shadra sangat jarang. Ia dilahirkan di Syiraz sebuah kota yang paling terkenal di Iran, di kawasan sekitar Persepolis (979/980 H/1571/1572 M). Ayahnya adalah Ibrahim bin Yahya bangsawan kota tersebut (tampaknya pejabat menteri di provinsi Fars). Tahun lahirnya tidak diketahui. Ia ia datang ke Isfahan pada usia yang masih sangat muda dan belajar pada teolog Baha’uddin Al-‘Amili (W.1031 H/1622 M) lalu pada filsuf peripatetik Mir Fendereksi (1050 H/1641 M). Namun, gurunya yang utama adalah teolog-filsuf Muhammad, yang dikenal sebagai Mir Damud (W. 1041 H/1631 M).
Nama lengkapnya, Muhammad bin Ibrahim Yahya Qawami Syirazi, sering disebut Shadruddin Asy-Syirazi atau Mulla Shadra. Di kalangan muridnya, dia lebih dikenal sebagai Shadr Al-Mutha’allihin. Dinamakan demikian karena ketinggian tingkat pengetahuannya tentang hikmah.
Mulla Shadra meninggalkan tiga putri dan dua putra. Putra tertentunya adalah (Mulla) Ibrahim, seorang filsuf, muhadits, mutakallim, faqih, dan mistikus dengan bakat kepenyiaran yang menonjol, matematikawan, dan menguasai ilmu-ilmu lain. Singkatnya, ia seorang ulama prolifik. Putra keduanya, Nizamuddin Ahmad lebih dikenal sebagai Mirza dan Abu Tarub yang lahir 1031 H (menurut catatan), adalah seorang filsuf, mistikus, sastrawan, dan penyair. Tiga putrinya adalah Ummah Kultsum, Zubaidah, dan Ma’shumah. Dua putrinya ini menikah dengan Syekh Abdurrazak Lahiji, dikenal sebagai Faidh, dan Mulla Muhsin Faridh Al-Kasyani merupakan murid-murid favoritnya dan tergolong sebagai ulama yang menguasai bidang filsafat, ‘irfani, dan ilmu-ilmu Islam. Baik anak-anak maupun menantu Mulla Shadra tergolong sebagai ulama terpandang pada masanya yang menguasai ilmu-ilmu Islam tradisional.[1]

2. Karya-karya Mulla Shadra
Menurut Tabataba’i sebagai dikutip Nasr, karya Mulla Shadra tidak kurang dari 46 judul ditambah enam risalah yang dianggap karya Mulla Shadra. Tetap Fazlur Rahman menyebutnya berjumlah 32 atau 33 risalah. Sebagian besar karya-karya tersebut telah dipublikasi semenjak seperempat terakhir abad XIX. Hanya risalah-risalah kecil tertentu saja yang belum dipublikasi.[2]
Sebagai penerus aliran isyraq dan penyempurna berbagai aliran filsafat Islam sebelumnya, tentu saja hal tersebut memberi dampak terhadap kuantitas karya Mulla Shadra. Penulis sajikan karya-karya besar dari seseorang Mulla Shadra lebih dari 20 karya yang ditulisnya, sebagai berikut:
1.Al-Hikmah Al-Muta’aliyah fi Asfar Al-A’qliyah Al-Arba’ah (teosofi transendental yang membicarakan empat perjalanan akal pada jiwa).
2.Al-Hasyr (tentang kebangkitan).
3.Al-Hikmah Al-‘Arsyiyah  (hikmah diturunkan dari ‘Arsy Ilahi).
4.Hunduts Al-‘Alam (penciptaan alam).
5.Kasr Al-Ashnam Al-Jahiliyah fi dhaimni al-Mutashawifin (pemusnahan berhala jahiliyah dalam mendebati mereka yang berpura-pura menjadi ahli Sufi).
6.Kalq Al-A’mal, buku ini mwmbicarakan sifat kejadian perbuatan manusia.
7.Al-Lama’ah Al-Masyriqiyyah Fi Al-Funun Al-Mantiqiyyah (percikan cahaya illuminasionis dalam seni logika).
8.Al-Mabda’wa Al-Ma’ad (permulaan dan pengembalian).
9.Matafih Al-Ghaib (kunci alam gaib).
10.itab Al-Masya’ir (kitab penembusan metafisika).
11.Al-Mizani (tentang perilaku perasaan).
12.Mutasyabihat Al-Qur’an (ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an), membicarakan ayat-ayat Qur’an yang sukar dipahami dan metafosis dari sudut gnosis.
13.Al-Qadha wa Al-Qadar Fi Af’ali Al-Basyar (tentang masalah Qadha dan Qadar dalam perbuatan manusia).
14.Asy-Syawahid Ar-Rububiyah Fi Al-Manahij As-Sulukiyah (Penyaksian Ilahi akan jalan kea rah kesederhanaan rohani) adalah ringkasan doktrin-doktrin Mulla Shadra yang paling lengkap yang ditulis berdasarkan tinjauan gnosis.
15.Sharh-i Shafa.
16.Sharh-I Hikmat Al-Ishraq.
17.Ittihad Al-‘aquil wa’l-Ma’qul.
18.Ajwibah Al-Masa’il.
19.Ittisaf Al-Mahiyyah bi’l wujud.
20.At-Tashakhus.
21.Sarayan Nur Wujud.
22.Limmi’yya ikhtisas Al-Mintaqah.
23.Khalaq Al-A’mal.
24.Zad Al-Musafir.
25.Isalat-i Ja’l-I Wujud.
26.Al-Hashriyyah.
27.Al-alfaladz Al-Mufradah.
28.Radd-i Shubahat-I Iblis.
29.At-Tanqih.
30.At-Tasawwur wa’l-Tasdiq.
31.Diwan Shi’r.[3]

3. Latar Belakang Intelektual
Ketika Mulla Shadra muda datang ke Ishfahan, ia memasuki dunia intelektual yang matang dan memiliki akar sejarah yang panjang. Mulla Shadra mewarisi khazanah intelektual itu dan mengetahui secara mendalam ajaran, pendekatan dan masalah-masalah setiap aliran pemikiran. Akhirnya, dengan penghayatannya yang mendalam tentang tradisi pemikiran Islam sebagai prespktif intelektual yang terus hidup dan berkembang dan kesungguhannya dalam memahami keterkaitan doktrin antar aliran pemikiran Islam, Mulla Shadra berusaha membentuk suatu sistensi dalam dimensi yang baru, yang dinamakan al-Hikmah al-Muta’aliyah. Suntesis yang dilakukan oleh Mulla Shadra bukanlah sekedar menggabungkan teori atau gagasan keempat aliran pemikiran Islam tersebut di atas, melainkan meramunya dalam prespektif yang belum pernah ada sebelumnya.
Al-Hikmah al-Muta’aliyah bukan saja menampilkan sintesa pemikiran, juga memahkotai pemikiran itu dengan bukti-bukti nash, baik al-Qur’an maupun hadits. Karena itu, untuk memahami pemikiran Mulla Shadra, terutama karya monmentalnya tersbut, terlebih dahlu harus dipahami beberapa sumber pemikiran yang mengitarinya sebagai diutarakan atas, meliputi:
1.Filsafat Islam peripatetis Neo-Platonisme yang dikembangkan oleh ibn Sina dan para pendukungnya.
2.Teosofi Isyraqi (Iluminasi) Suhrawardi dan para pengikutnya, Qutb al-Din Syirazi dan Jalal al-Din Dawani.
3.Doktrin gnostis (irfani) Ibn Arabi dan mereka bertanggung jawab dalam penyebaran doktrin Ibn Arabi, seperti Sadr al-Din Qunyawi serta karya-karya tokoh sufo terkemuka, antara lain ayn Qudat hamadani dan Mahmud Syabistari.
4.Ilmu Kalam Syi’ah Imamiyah.
5.Wahyu, termasuk di dalamnya sabda nabi SAW dan para Imam Syi’ah.
Dalam penilaian Henry Corbin, pemikiran Suhrawardi  dan Mulla Shadra disejajarkannya dengan kombinasi antara St. Thomas Aquinas dan Jakob Boehme. Tulisan Mulla shadra, Al-Hikmah al-Muta’aliyah adalah karya paling monumntal filsafat Islam, yang menyelaraskan secara menyeluruh argumen rasional, ilmunisasi yang diterima dari kesadaran spiritual dan ajaran wahyu, dalam artian tertentu merupakan aktivitas intelektual selama seribu tahun dalam dunia Islam Persia dan sebagian india Muslim.[4]

4. Filsafat Mulla Sadra
a. Epistimologi
Filsafat dapat dibdakan menjadi kepada dua pembagian utama:
(1) bersifat teoritis, yang mengacu kepada pengetahuan tentang segala sesuatusebagaimana adanya. Perwujudannya tercermin dalam dunia asli, termasuk jiwa di dalamnya sebagai dikemukakan oleh Al-Farabi dan Ibn-Sina.
(2) bersifat praktis, yang mengacu pada pencapaian kesempurnaan-kesempurnaan yang cocok bagi jiwa. Perwujudannya adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, melalui smacam intitation Dei yang membuat Jiwa berhak memperoleh suatu hak istimewa seperti apa. 
b. Metafisiska 
1. Wujud 
Pada awalnya, Mulla Shadra adalah penganut pemikiran metafisika esensialis Suhrawardi, tetapi dengan pengalaman spiritual yang dikomunikasikan dengan visi intlktualnya, ia mniptakan apa yang disebut Corbin sebagai “revolusi besar di bidang metafisiska”, dengan memformulasikan metafisika eksistensialis, menggantikan metafisika yang dianut sebelumnya. Eksistensialis, Mulla Shadra dibangun atas tiga pilar utama yaitu wahdah (unity) wujud, asalah (principiality) wujud, dan tasykik (gradation) wujud; dan tidak dapat dipahami tanpa mendalami ontologi Ibn Sina serta kosmologi dan poetika Suhrawardi.
Segala sesuatu diciptakan tersusun dari eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah). Tetapi wujud mutlak samasekali bebas dari susunan seperti itu dan memberikan kepada entitas yang diciptakan wujud yang memilikinya melalui suatu proses penyinaran yang mirip dengan penyinaran cahaya. Namun karena akibat harus bersanding dengan sebabnya, maka wujud entitas-entitaslah yang diciptakan, dan bukan esensi mereka yang memancar dari wujud mutlak. Sebagai cahaya segala cahaya, Ia menganugrahkan kepada entitas-entitas yang diciptakan sifat benderang mereka, yang dengan itu mereka mempunyai kesamaan dengan-Nya. Tetapi esensi mereka sendiri yang berasal dari tindakan-Nya, tetapi merupakan  kegelapan atau ismus, yang dalam pandangan Isyraqi memisahkan makhlukdari cahaya segala cahaya, yang merupakan penciptaannya yang sejati. 

2. Jiwa
Mulla Shadra sebagaimana Aristotels, mendfinisikan jiwa sebagi entelchy badan. Oleh sebab itu, manakala jiwa itu tidak bersifat abadi, dalam arti bermula, maka jiwa itu terpisah dan bebas dari materi hanyalah dengan meyakini adanya pra-ksistensi jiwa. Menurut Mulla Shadra, jiwa itu bersandar kepada prinsip dasar yang disebut perubahan substansif (istihala jauhariya). Pada umumnya, jiwa itu bersifat jasmaniyah, ttapi akhirnya bersifat spiritual selamanya (jismaniyat al-hudst rahaniyat al-baqa’). Artinya, manakala jiwa muncul di atas landasan materi, bukanlah berarti jiwa itu bersifat materi scara absolut. Dengan prinsip perubahan substantif ini, dianut adanya tingkatan yang lebih tinggi dari landasan yang paling rndah sekalipun, seperti tumbuh-tumbhan, meskipun ia bergantung kepada materi, tetapi tidak dapat dikatakan sepenuhnya bersifat materi. Materi atau tubuh itu hanyalah instrumen dan merupakan langkah pertama untuk berpindah dari alasan materi menuju alam spiritual (malakut). 

3. Moral
Agama Islam diturunkan oleh Allah kepada manusia dengan tujuan untuk membimbing merka memperoleh kebahagiaan tertinggi dengan jalan menciptakan keseimbangan, baik pada tingkat individu maupun sosial. Hal ini mengandung arti bahwa substansi manusia, yang diciptakan oleh Dzat Yang maha Sempurna, harus mengetahui cara mengaktualisasi seluruh kemapuannya.
Berdasarkan kebahagiaan ini, Mulla Shadra mnyatakan sangat tergantung kepada kesempurnaan jiwa dalam pross inteleksi (ta’aqqul). Lebih lanjut Shadra mengatakan bahwa pengetahuan dapat mngalih bentuk orang lain yang tahu dalam proses trans-substansi (harka jauhariya)nya menuju kesmpurnaan.[5] 

4. Mulla Shadra dan Mistisisme
Salah satu kontroversi yang mncuat sputar Mulla Shadra ialah sebrapa penting mmaknai mistisisme untuk menghayati pemikirannya. Boleh jadi, ada yang berpandangan hal ini sebagai berlebihan mengingat kekuatan utama pemikiran Mulla Shadra lebih bersifat logis dan konseptual ketimbang mistis. Mulla Shadra mmang mempunyai minat yang besar terhadap topik-topik mistis, seperti terlihat pada seginya diamerujuk pada pemikiran Ibn Al-‘Arabi dan gurunya, Mir Damad. Akan tetapi, pada sisi lain seperti telah kita sakasikan, begitu banyak kesamaan antara pandangannya seputar eksistensi dan esensi dengan pandangan Ibn Rusyd, musuh kawakan mistisme.[6] 

5. Iluminasionalisme (Isyraqiyah) dan Rekonsilisasi Neoplationisme-Sufisme.
Terlepas dari pandangannya tentang sejarah filsafat ini, sosok metodologi Mulla Shadra yang mesti dioerhatikan adalah penerapan kategori-kategori filsafat dan tasawuf pada ajaran-ajaran Syi’ah. Dia berpendapat bahwa tahapan kenabian dalam sejarah dunia berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad Saw., “pamungkas para nabi”. Tahapan selanjutnya ialah imamah (wilayah/wishayah) yang terdiri dari dua belas imam Syi’ah. Imamah akan terus berlanjut hingga kembalinya imam kedua belas yang saat ini masih gaib menurut doktrin Syi’ah.
Mulla Shadra menyatakan bahwa tahapan imamah sebenarnya telah dimulai sejak Nabi Sheth yang kedudukannya terhadap Adam sama sengan kedudukan Ali terhadap Nabi Muhammad Saw. yaitu pengganti dan penerus. Mulla Shadra menemukan dasar filosofis dan mistis bagi pandangan ini dari konsep Ibn ‘Arabi tentang “kebenaran profetik” atau Logos Tuhan (kalimah), dengan Nabi Muhammad Saw. Merupakan manifestasi terakhir dan puncaknya.
Seperti halnya Ibn ‘Arabi, Mulla Shadra juga meyakini bahwa kebenaran ini memeiliki dua spek, yakni aspek lahir dan aspk batin. Dan karena Muhammad Saw. Sendiri merupakan manisfestasi “kebenaran kenabian”, ‘Ali, imam pertama Syi’ah dan penerus Nabi Saw., merupakan seluruh manisfestasi  “penerus kebenaran”. Ketika Mahdi atau Imam Yang Dinanti muncul pada akhir zaman, keseluruhan makna wahyuakan secara utuh terurai, dan manusia akan kembali pada keyakinan monotesik murni yang pertama kali diant Ibrahim dan terakhir diperteguh oleh Muhammad Saw. 
Empat perjalanan jiwa, seperti yang dikemukakan dalam Al-Asfar Al-Araba’ah, adalah sebagai berikut: 
1. Perjalanan dari makhluk (khalq) menuju Tuhan (Haqq)
2. Perjalanan menuju Tuhan melalui (bimbingan) Tuhan
3. Perjalanan dari Tuhan menuju Tuhan melalui (bimbingan) Tuhan 
4. Perjalanan di dalam makhluk melalui (bimbingan) Tuhan.[7]

Terlalu banyak pikiran filsafat Mulla Shadra untuk dikemukakan di sini. Paling tidak, penulis mencoba memperkenalkan grand filsafatnya sehingga mengetahui secara jelas karekter filsafatnya. Meskipun sudah diketahui bahwa Mulla Shadra dikenal dengan hikamh muta’aliyyah-nya, perjalanan panjang sampai ke sana tampaknya perlu diungkapin sehingga tahapan filsafatnya bias dipahami dan rasionalisasinya objektif.  
Dalam tulisan Abdul Hadi, ada empat pokok masalah kefilsafatan yang dibahas Mulla Shadra dalam karyanya.
1. Berkenaan dengan teori pengetahuan atau epistemologi Mulla Shadra membahas masalah pengetahuan dan hubungan yang mengetahui (alim) dan yang diketahui (ma’lum).
2. Metafisika atau ontologi Mulla Shadra yang membahas masalah kesatuan transenden wujud (wahdah al-wujud), dan berbagai wujud yang dibahas oleh para sufi, khususnya sejak Ibnu Arabi dan oleh filsuf Masya’iyah, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina.
3. Gerakan substansial atau al-jauhariyyah yang dibahas dalam filsafat isyraqiyah semenjak As-Suhrawardi.
4. Masalah jiwa dan faculty-nya, generasi, kesempurnaan, dan kebangkitan di akhir yang dibahas baik oleh filsuf Masya’iyah maupun Isyraqiyah dan Wujudiah.

Dalam teori pengetahuannya, Mulla Shadra  menetapkan tiga jalan utama mencapai kebenaran atau pngetahuan: jalan wahyu, jalan ta’aqqul (inteleksi) atau al-burhan (pembuktian), serta jalan musyahadah dan yang dicapai melalui penyucian diri dan penyucian kalbu. Dengan menggunakan istilah lain. Mulla Shadra menyebut jalan tersebut sebagai Jalan al-Qur’an, Jalan Al-Burhani, dan Jalan al-‘Irfan (makrifat). Istilah husuli (konseptual) tersebut merupakan kunci penting memahami teori pengetahuan Mulla Shadra.
Dalam teori pengetahuannya, Mulla Shadra membagi pengetahuan menjadi dua jenis: pengetahuan husuli atau konseptual (al-‘ilm al-husuli) dan pengetahuan atau ilmu huduri. Bentuk pengetahuan  ini menyatu dalam diri seorang muta’alli, yaitu seseorang yang telah mencapai pengetahuan berpringkat tinggi, yang disebut  oleh As-Suhrawardi sebagai al-hakim al-muta’ali. 
Dikaitkan denga teori pengetahuannya, tampak bahwa titik pusat filsafat Mulla Shadra ialah pengalaman makrifat (al-irfani) tentang wujud sebagai hakikat atau kenyataan tertinggi. Pengalaman biasa tentang alam dunia, tempat benda, dan semua ciptaan mengada (mau’ud), dalam metafisika Aristoteles berperan sebagai asas utama. Hal in dapat dipahami karena asas metafisika Aristoteles ialah kberadaan atau kewujudan benda dan ciptaan. Bagi Mulla Shadra, bukan keberadaan benda itu yang pnting, melainkan penglihatan batin subjek yang mengamati alam keberadaan atau kewujudan.
Dalam alam keberadaan itu, Mulla Shadra melihat bahwa seluruh yang maujud bukan sekdar objek maujud, tetapi kenyataan atau hakikat yang tidak dapat dibatasi oleh berbagai mahiyah (quddilas) yang memberinya berbagai penampakan. Dengan demikian, maujud dengan aneka wujud masing-masing kewujudan itu bebas dari yang lain. Metafisika wujud Mulla Shadra ini dikembangkan berdasarkan pengalaman tentang hkikat dan pembedaan husuli tentang wujud sebagai ada atau yang ada, dan gradasi yang dialaminya. Berdasarkan hal tersebut, Mulla Shadra membedakan antara konsep wujud (mafhum al-wujud) dan hakikat wujud (haqiqah al-wujud). 
Filsafat kedua Mulla Shadra berkenaan dengan metafisika atau ontologi yang membahas proses panjang sesuatu sampai pada tingkat kesatuan maujud. Hal itu dimulai dengan pemahaman yang tuh apa itu eksistensi dan esensi. Mulla Shadra telah memberikan finalisasi konsep tersebut. Realitas sejarah menunjukkan hampir semua filsuf menjadikan objek pertama pembahasannyaadalah tntang eksistensi dan esensi tentang Ketuhanan. Bagi Aristoteles, substansi atau Dzat itulah yang mempunyai eksistensi. Yang lainnya,yaitu kata kerja, kata sifat, dan sebagainya merupakan keterangan alias aksiden yang ditambahakan atau esensi yang melekat pada substansi.pngetahuan kita tentang substani itu termasuk aksiden. Akan tetapi, pengetahuan kita tentang diri kita termasuk esensi begitu juga pengtahuan Tuhan tentang diri-Nya. Begitupula sifat-sifat Tuhan lainnya.[8]

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dari Filsafat Mulla Sadra dapat di definisikan bahwa epistimologi Filsafat dapat dibedakan menjadi kepada dua pembagian uatama: (1) bersifat teoritis, yang mengacu kepada pengetahuan tentang segala sesuatusebagaimana adanya. Perwujudannya tercermin dalam dunia asli, termasuk jiwa di dalamnya sebagai dikemukakan oleh Al-Farabi dan Ibn-Sina. (2) bersifat praktis, yang mengacu pada pencapaian kesempurnaan-kesempurnaan yang cocok bagi jiwa. Perwujudannya adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan keberadaan wujud bahwa Segala sesuatu diciptakan tersusun dari eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah). Tetapi wujud mutlak samasekali bebas dari susunan seperti itu dan memberikan kepada entitas yang diciptakan wujud yang memilikinya melalui suatu proses penyinaran yang mirip dengan penyinaran cahaya. Mulla Shadra pula tidak dapat mebuktikan adanya keabadian waktu, bahwasannya mustahil keabadian waktu dan gerak menjadi dasar tesis para filof itu (mungkin yang dimaksudkannya adalah para filsof Neoplatonik Muslim) untukmenyatakan keabadian alam. Satu-satunya wujud yang eksistensinya mendahului wakt dan gerak adalah Tuhan yang menciptakan alam dengan memerintahkannya jadilah alam tersebut. Dan karena waktu merupakan bagian alam, mustahil waktu bisa mendahului perintah kreatif Tuhan (Amr) yang telah menimbulkan kebradaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Fakhry, Majid. 1997. Pengantar  Filsafat Islam. Bandung: Mizan Media Utama.
Leaman, Oliver. 1999. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Mizan Media Utama. 
Nasution, Hasyimsyah. 2005. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Praja, Juhaya.S. 2009. Filsafat Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.



[1] Juhaya.S.Praja, Filsafat Islam,  (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), hlm.269-270
[2] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm.169
[3] Juhaya.S.Praja, Filsafat Islam,  (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), hlm.271-272
[4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm.173
[5]Hasyimsyah  Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm.174-181
[6]Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: Mizan Media Utama, 1999), hlm. 112-113
[7]Majid Fakhry,  Pengantar  Filsafat Islam, (Bandung: Mizan Media Utama (MMU), 1997), hlm.135
[8] Ibid, hlm.275-277

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga bermanfaat.
Tinggalkan komentar dengan sopan.