Filsafat Mulla Sadra
Oleh:
Akhmad Yusuf
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Filsafat
berasal dari kata Yunani, yaitu philoshopia, kata berangkai dari
philein yang berarti mencintai dan Sophia berarti kebijaksanaan.
Philosophia berarti cinta akan kebijaksanaan (Inggris: love
of wisdom, Belanda: wijsbegeerte, Arab: muhibbu
al-hikmah). Orang yang berfilsafat atau orang yang
melakukan filsafat disebut “filsuf” atau “filosof”,
artinya pecinta kebijaksanaan.
Pada
zaman dahulu, filsafat islam mengalami perkembangan yang pesat.
Perbedaan pemikiran-pemikiran dari satu tokoh filsafat dengan tokoh
filsafat lainnya pun kerap terjadi. Salah satu tokoh filsafat islam
adalah Mulla Sadra. Pada masa ini perubahan besar terjadi dalam
substansi pengkajian dan sistematika pembahasan konsep-konsep
ketuhanan dalam filsafat Islam. Sehingga pada masa itu Mulla Sadra
dapat memadukan empat aliran yang tadinya mandiri kemudian dapat
distukan dengan melahirkan satu aliran yang dia sebut al-Hikmah
al-Muta’aliyah.
Aliran
baru ini dapat memnfaatkan warisan pemikiran antara
pemikiran-pemikiran filsafat Islam dan doktrin-doktrin agama.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana biografi dari Mulla Shadra?
2.
Apa sajakah karya Mulla Shadra?
3.
Bagaimana Filsafat Mulla Shadra?
C. Tujuan
Penelitian
1.
Untuk mengetahui biografi dari Mulla Shadra
2.
Untuk mengetahui karya dari Mulla Shadra
3.
Untuk mengetahui Filsafat Mulla Shadra?
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Biografi
Informasi
yang aktual tentang kehidupan Mulla Shadra sangat jarang. Ia
dilahirkan di Syiraz sebuah kota yang paling terkenal di Iran, di
kawasan sekitar Persepolis (979/980 H/1571/1572 M). Ayahnya adalah
Ibrahim bin Yahya bangsawan kota tersebut (tampaknya pejabat menteri
di provinsi Fars). Tahun lahirnya tidak diketahui. Ia ia datang ke
Isfahan pada usia yang masih sangat muda dan belajar pada teolog
Baha’uddin Al-‘Amili (W.1031 H/1622 M) lalu pada filsuf
peripatetik Mir Fendereksi (1050 H/1641 M). Namun, gurunya yang utama
adalah teolog-filsuf Muhammad, yang dikenal sebagai Mir Damud (W.
1041 H/1631 M).
Nama
lengkapnya, Muhammad bin Ibrahim Yahya Qawami Syirazi, sering disebut
Shadruddin Asy-Syirazi atau Mulla Shadra. Di kalangan muridnya, dia
lebih dikenal sebagai Shadr
Al-Mutha’allihin.
Dinamakan demikian karena ketinggian tingkat pengetahuannya tentang
hikmah.
Mulla
Shadra meninggalkan tiga putri dan dua putra. Putra tertentunya
adalah (Mulla) Ibrahim, seorang filsuf, muhadits, mutakallim, faqih,
dan mistikus dengan bakat kepenyiaran yang menonjol, matematikawan,
dan menguasai ilmu-ilmu lain. Singkatnya, ia seorang ulama prolifik.
Putra keduanya, Nizamuddin Ahmad lebih dikenal sebagai Mirza dan Abu
Tarub yang lahir 1031 H (menurut catatan), adalah seorang filsuf,
mistikus, sastrawan, dan penyair. Tiga putrinya adalah Ummah Kultsum,
Zubaidah, dan Ma’shumah. Dua putrinya ini menikah dengan Syekh
Abdurrazak Lahiji, dikenal sebagai Faidh, dan Mulla Muhsin Faridh
Al-Kasyani merupakan murid-murid favoritnya dan tergolong sebagai
ulama yang menguasai bidang filsafat, ‘irfani, dan ilmu-ilmu Islam.
Baik anak-anak maupun menantu Mulla Shadra tergolong sebagai ulama
terpandang pada masanya yang menguasai ilmu-ilmu Islam
tradisional.[1]
2. Karya-karya
Mulla Shadra
Menurut
Tabataba’i sebagai dikutip Nasr, karya Mulla Shadra tidak kurang
dari 46 judul ditambah enam risalah yang dianggap karya Mulla Shadra.
Tetap Fazlur Rahman menyebutnya berjumlah 32 atau 33 risalah.
Sebagian besar karya-karya tersebut telah dipublikasi semenjak
seperempat terakhir abad XIX. Hanya risalah-risalah kecil tertentu
saja yang belum dipublikasi.[2]
Sebagai
penerus aliran isyraq dan penyempurna berbagai aliran filsafat Islam
sebelumnya, tentu saja hal tersebut memberi dampak terhadap kuantitas
karya Mulla Shadra. Penulis sajikan karya-karya besar dari seseorang
Mulla Shadra lebih dari 20 karya yang ditulisnya, sebagai berikut:
1.Al-Hikmah
Al-Muta’aliyah fi Asfar Al-A’qliyah Al-Arba’ah (teosofi
transendental yang membicarakan empat perjalanan akal pada jiwa).
2.Al-Hasyr
(tentang
kebangkitan).
3.Al-Hikmah
Al-‘Arsyiyah (hikmah
diturunkan dari ‘Arsy Ilahi).
4.Hunduts
Al-‘Alam (penciptaan
alam).
5.Kasr
Al-Ashnam Al-Jahiliyah fi dhaimni al-Mutashawifin (pemusnahan
berhala jahiliyah dalam mendebati mereka yang berpura-pura menjadi
ahli Sufi).
6.Kalq
Al-A’mal, buku
ini mwmbicarakan sifat kejadian perbuatan manusia.
7.Al-Lama’ah
Al-Masyriqiyyah Fi Al-Funun Al-Mantiqiyyah (percikan
cahaya illuminasionis dalam seni logika).
8.Al-Mabda’wa
Al-Ma’ad (permulaan
dan pengembalian).
9.Matafih
Al-Ghaib (kunci
alam gaib).
10.itab
Al-Masya’ir (kitab
penembusan metafisika).
11.Al-Mizani
(tentang
perilaku perasaan).
12.Mutasyabihat
Al-Qur’an (ayat-ayat
mutasyabihat
dalam
Al-Qur’an), membicarakan ayat-ayat Qur’an yang sukar dipahami dan
metafosis dari sudut gnosis.
13.Al-Qadha
wa Al-Qadar Fi Af’ali Al-Basyar (tentang
masalah Qadha dan Qadar dalam perbuatan manusia).
14.Asy-Syawahid
Ar-Rububiyah Fi Al-Manahij As-Sulukiyah (Penyaksian
Ilahi akan jalan kea rah kesederhanaan rohani) adalah ringkasan
doktrin-doktrin Mulla Shadra yang paling lengkap yang ditulis
berdasarkan tinjauan gnosis.
15.Sharh-i
Shafa.
16.Sharh-I
Hikmat Al-Ishraq.
17.Ittihad
Al-‘aquil wa’l-Ma’qul.
18.Ajwibah
Al-Masa’il.
19.Ittisaf
Al-Mahiyyah bi’l wujud.
20.At-Tashakhus.
21.Sarayan
Nur Wujud.
22.Limmi’yya
ikhtisas Al-Mintaqah.
23.Khalaq
Al-A’mal.
24.Zad
Al-Musafir.
25.Isalat-i
Ja’l-I Wujud.
26.Al-Hashriyyah.
27.Al-alfaladz
Al-Mufradah.
28.Radd-i
Shubahat-I Iblis.
29.At-Tanqih.
30.At-Tasawwur
wa’l-Tasdiq.
3.
Latar Belakang Intelektual
Ketika
Mulla Shadra muda datang ke Ishfahan, ia memasuki dunia intelektual
yang matang dan memiliki akar sejarah yang panjang. Mulla Shadra
mewarisi khazanah intelektual itu dan mengetahui secara mendalam
ajaran, pendekatan dan masalah-masalah setiap aliran pemikiran.
Akhirnya, dengan penghayatannya yang mendalam tentang tradisi
pemikiran Islam sebagai prespktif intelektual yang terus hidup dan
berkembang dan kesungguhannya dalam memahami keterkaitan doktrin
antar aliran pemikiran Islam, Mulla Shadra berusaha membentuk suatu
sistensi dalam dimensi yang baru, yang dinamakan al-Hikmah
al-Muta’aliyah. Suntesis
yang dilakukan oleh Mulla Shadra bukanlah sekedar menggabungkan teori
atau gagasan keempat aliran pemikiran Islam tersebut di atas,
melainkan meramunya dalam prespektif yang belum pernah ada
sebelumnya.
Al-Hikmah
al-Muta’aliyah bukan
saja menampilkan sintesa pemikiran, juga memahkotai pemikiran itu
dengan bukti-bukti nash, baik al-Qur’an maupun hadits. Karena itu,
untuk memahami pemikiran Mulla Shadra, terutama karya monmentalnya
tersbut, terlebih dahlu harus dipahami beberapa sumber pemikiran yang
mengitarinya sebagai diutarakan atas, meliputi:
1.Filsafat Islam peripatetis Neo-Platonisme yang dikembangkan oleh ibn
Sina dan para pendukungnya.
2.Teosofi
Isyraqi (Iluminasi) Suhrawardi dan para pengikutnya, Qutb al-Din
Syirazi dan Jalal al-Din Dawani.
3.Doktrin
gnostis (irfani)
Ibn Arabi dan mereka bertanggung jawab dalam penyebaran doktrin Ibn
Arabi, seperti Sadr al-Din Qunyawi serta karya-karya tokoh sufo
terkemuka, antara lain ayn Qudat hamadani dan Mahmud Syabistari.
4.Ilmu
Kalam Syi’ah Imamiyah.
5.Wahyu,
termasuk di dalamnya sabda nabi SAW dan para Imam Syi’ah.
Dalam
penilaian Henry Corbin, pemikiran Suhrawardi dan Mulla Shadra
disejajarkannya dengan kombinasi antara St. Thomas Aquinas dan Jakob
Boehme. Tulisan Mulla shadra, Al-Hikmah
al-Muta’aliyah adalah
karya paling monumntal filsafat Islam, yang menyelaraskan secara
menyeluruh argumen rasional, ilmunisasi yang diterima dari kesadaran
spiritual dan ajaran wahyu, dalam artian tertentu merupakan aktivitas
intelektual selama seribu tahun dalam dunia Islam Persia dan sebagian
india Muslim.[4]
4. Filsafat
Mulla Sadra
a. Epistimologi
Filsafat
dapat dibdakan menjadi kepada dua pembagian utama:
(1)
bersifat teoritis, yang mengacu kepada pengetahuan tentang segala
sesuatusebagaimana adanya. Perwujudannya tercermin dalam dunia asli,
termasuk jiwa di dalamnya sebagai dikemukakan oleh Al-Farabi dan
Ibn-Sina.
(2)
bersifat praktis, yang mengacu pada pencapaian
kesempurnaan-kesempurnaan yang cocok bagi jiwa. Perwujudannya adalah
mendekatkan diri kepada Tuhan, melalui smacam intitation Dei yang
membuat Jiwa berhak memperoleh suatu hak istimewa seperti apa.
b. Metafisiska
1. Wujud
Pada
awalnya, Mulla Shadra adalah penganut pemikiran metafisika esensialis
Suhrawardi, tetapi dengan pengalaman spiritual yang dikomunikasikan
dengan visi intlktualnya, ia mniptakan apa yang disebut Corbin
sebagai “revolusi besar di bidang metafisiska”, dengan
memformulasikan metafisika eksistensialis, menggantikan metafisika
yang dianut sebelumnya. Eksistensialis, Mulla Shadra dibangun atas
tiga pilar utama yaitu wahdah (unity) wujud, asalah
(principiality) wujud, dan tasykik (gradation) wujud; dan
tidak dapat dipahami tanpa mendalami ontologi Ibn Sina serta
kosmologi dan poetika Suhrawardi.
Segala
sesuatu diciptakan tersusun dari eksistensi (wujud) dan esensi
(mahiyah). Tetapi wujud mutlak samasekali bebas dari susunan seperti
itu dan memberikan kepada entitas yang diciptakan wujud yang
memilikinya melalui suatu proses penyinaran yang mirip dengan
penyinaran cahaya. Namun karena akibat harus bersanding dengan
sebabnya, maka wujud entitas-entitaslah yang diciptakan, dan bukan
esensi mereka yang memancar dari wujud mutlak. Sebagai cahaya segala
cahaya, Ia menganugrahkan kepada entitas-entitas yang diciptakan
sifat benderang mereka, yang dengan itu mereka mempunyai kesamaan
dengan-Nya. Tetapi esensi mereka sendiri yang berasal dari
tindakan-Nya, tetapi merupakan kegelapan atau
ismus, yang
dalam pandangan Isyraqi memisahkan makhlukdari cahaya segala cahaya,
yang merupakan penciptaannya yang sejati.
2. Jiwa
Mulla Shadra sebagaimana Aristotels, mendfinisikan jiwa sebagi entelchy
badan.
Oleh sebab itu, manakala jiwa itu tidak bersifat abadi, dalam arti
bermula, maka jiwa itu terpisah dan bebas dari materi hanyalah dengan
meyakini adanya pra-ksistensi jiwa. Menurut Mulla Shadra, jiwa itu
bersandar kepada prinsip dasar yang disebut perubahan
substansif (istihala
jauhariya).
Pada umumnya, jiwa itu bersifat jasmaniyah, ttapi akhirnya bersifat
spiritual selamanya (jismaniyat
al-hudst rahaniyat al-baqa’).
Artinya, manakala jiwa muncul di atas landasan materi, bukanlah
berarti jiwa itu bersifat materi scara absolut. Dengan prinsip
perubahan substantif ini, dianut adanya tingkatan yang lebih tinggi
dari landasan yang paling rndah sekalipun, seperti tumbuh-tumbhan,
meskipun ia bergantung kepada materi, tetapi tidak dapat dikatakan
sepenuhnya bersifat materi. Materi atau tubuh itu hanyalah instrumen
dan merupakan langkah pertama untuk berpindah dari alasan materi
menuju alam spiritual (malakut).
3. Moral
Agama
Islam diturunkan oleh Allah kepada manusia dengan tujuan untuk
membimbing merka memperoleh kebahagiaan tertinggi dengan jalan
menciptakan keseimbangan, baik pada tingkat individu maupun sosial.
Hal ini mengandung arti bahwa substansi manusia, yang diciptakan oleh
Dzat Yang maha Sempurna, harus mengetahui cara mengaktualisasi
seluruh kemapuannya.
Berdasarkan
kebahagiaan ini, Mulla Shadra mnyatakan sangat tergantung kepada
kesempurnaan jiwa dalam pross inteleksi (ta’aqqul).
Lebih lanjut Shadra mengatakan bahwa pengetahuan dapat mngalih bentuk
orang lain yang tahu dalam proses trans-substansi (harka
jauhariya)nya
menuju kesmpurnaan.[5]
4. Mulla Shadra dan Mistisisme
Salah
satu kontroversi yang mncuat sputar Mulla Shadra ialah sebrapa penting
mmaknai mistisisme untuk menghayati pemikirannya. Boleh jadi, ada
yang berpandangan hal ini sebagai berlebihan mengingat kekuatan utama
pemikiran Mulla Shadra lebih bersifat logis dan konseptual ketimbang
mistis. Mulla Shadra mmang mempunyai minat yang besar terhadap
topik-topik mistis, seperti terlihat pada seginya diamerujuk pada
pemikiran Ibn Al-‘Arabi dan gurunya, Mir Damad. Akan tetapi, pada
sisi lain seperti telah kita sakasikan, begitu banyak kesamaan antara
pandangannya seputar eksistensi dan esensi dengan pandangan Ibn
Rusyd, musuh kawakan mistisme.[6]
5. Iluminasionalisme
(Isyraqiyah)
dan Rekonsilisasi Neoplationisme-Sufisme.
Terlepas
dari pandangannya tentang sejarah filsafat ini, sosok metodologi
Mulla Shadra yang mesti dioerhatikan adalah penerapan
kategori-kategori filsafat dan tasawuf pada ajaran-ajaran Syi’ah.
Dia berpendapat bahwa tahapan kenabian dalam sejarah dunia berakhir
dengan wafatnya Nabi Muhammad Saw., “pamungkas para nabi”.
Tahapan selanjutnya ialah imamah (wilayah/wishayah)
yang terdiri dari dua belas imam Syi’ah. Imamah akan terus
berlanjut hingga kembalinya imam kedua belas yang saat ini masih gaib
menurut doktrin Syi’ah.
Mulla
Shadra menyatakan bahwa tahapan imamah sebenarnya telah dimulai sejak
Nabi Sheth yang kedudukannya terhadap Adam sama sengan kedudukan Ali terhadap Nabi Muhammad Saw. yaitu pengganti dan penerus.
Mulla Shadra menemukan dasar filosofis dan mistis bagi pandangan ini
dari konsep Ibn ‘Arabi tentang “kebenaran profetik” atau Logos
Tuhan
(kalimah),
dengan Nabi Muhammad Saw. Merupakan manifestasi terakhir dan
puncaknya.
Seperti
halnya Ibn ‘Arabi, Mulla Shadra juga meyakini bahwa kebenaran ini
memeiliki dua spek, yakni aspek lahir dan aspk batin. Dan karena
Muhammad Saw. Sendiri merupakan manisfestasi “kebenaran kenabian”,
‘Ali, imam pertama Syi’ah dan penerus Nabi Saw., merupakan
seluruh manisfestasi “penerus kebenaran”. Ketika Mahdi atau
Imam Yang Dinanti muncul pada akhir zaman, keseluruhan makna
wahyuakan secara utuh terurai, dan manusia akan kembali pada
keyakinan monotesik murni yang pertama kali diant Ibrahim dan
terakhir diperteguh oleh Muhammad Saw.
Empat
perjalanan jiwa, seperti yang dikemukakan dalam Al-Asfar
Al-Araba’ah, adalah
sebagai berikut:
1. Perjalanan dari makhluk (khalq)
menuju Tuhan (Haqq)
2. Perjalanan menuju Tuhan melalui (bimbingan)
Tuhan
3. Perjalanan
dari Tuhan menuju Tuhan melalui (bimbingan)
Tuhan
4. Perjalanan di dalam makhluk melalui (bimbingan)
Tuhan.[7]
Terlalu
banyak pikiran filsafat Mulla Shadra untuk dikemukakan di sini.
Paling tidak, penulis mencoba memperkenalkan grand filsafatnya
sehingga mengetahui secara jelas karekter filsafatnya. Meskipun sudah
diketahui bahwa Mulla Shadra dikenal dengan hikamh
muta’aliyyah-nya,
perjalanan panjang sampai ke sana tampaknya perlu diungkapin
sehingga tahapan filsafatnya bias dipahami dan rasionalisasinya
objektif.
Dalam
tulisan Abdul Hadi, ada empat pokok masalah kefilsafatan yang dibahas
Mulla Shadra dalam karyanya.
1. Berkenaan dengan teori pengetahuan atau epistemologi Mulla Shadra
membahas masalah pengetahuan dan hubungan yang mengetahui (alim)
dan yang diketahui (ma’lum).
2. Metafisika atau ontologi Mulla Shadra yang membahas masalah kesatuan
transenden wujud (wahdah
al-wujud),
dan berbagai wujud yang dibahas oleh para sufi, khususnya sejak Ibnu
Arabi dan oleh filsuf Masya’iyah, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina.
3. Gerakan substansial atau al-jauhariyyah
yang
dibahas dalam filsafat isyraqiyah semenjak As-Suhrawardi.
4. Masalah jiwa dan faculty-nya,
generasi, kesempurnaan, dan kebangkitan di akhir yang dibahas baik
oleh filsuf Masya’iyah maupun Isyraqiyah dan Wujudiah.
Dalam
teori pengetahuannya, Mulla Shadra menetapkan
tiga jalan utama mencapai kebenaran atau pngetahuan: jalan wahyu,
jalan ta’aqqul
(inteleksi)
atau al-burhan
(pembuktian),
serta jalan musyahadah dan yang dicapai melalui penyucian diri dan
penyucian kalbu. Dengan menggunakan istilah lain. Mulla Shadra
menyebut jalan tersebut sebagai Jalan al-Qur’an, Jalan Al-Burhani,
dan Jalan al-‘Irfan
(makrifat). Istilah husuli
(konseptual)
tersebut merupakan kunci penting memahami teori pengetahuan Mulla
Shadra.
Dalam
teori pengetahuannya, Mulla Shadra membagi pengetahuan menjadi dua
jenis: pengetahuan husuli
atau
konseptual (al-‘ilm al-husuli) dan pengetahuan atau ilmu huduri.
Bentuk pengetahuan ini menyatu dalam diri seorang muta’alli,
yaitu
seseorang yang telah mencapai pengetahuan berpringkat tinggi, yang
disebut oleh As-Suhrawardi sebagai al-hakim
al-muta’ali.
Dikaitkan
denga teori pengetahuannya, tampak bahwa titik pusat filsafat Mulla
Shadra ialah pengalaman makrifat (al-irfani)
tentang wujud sebagai hakikat atau kenyataan tertinggi. Pengalaman
biasa tentang alam dunia, tempat benda, dan semua ciptaan mengada
(mau’ud),
dalam metafisika Aristoteles berperan sebagai asas utama. Hal in
dapat dipahami karena asas metafisika Aristoteles ialah kberadaan
atau kewujudan benda dan ciptaan. Bagi Mulla Shadra, bukan keberadaan
benda itu yang pnting, melainkan penglihatan batin subjek yang
mengamati alam keberadaan atau kewujudan.
Dalam
alam keberadaan itu, Mulla Shadra melihat bahwa seluruh yang maujud
bukan sekdar objek maujud, tetapi kenyataan atau hakikat yang tidak
dapat dibatasi oleh berbagai mahiyah
(quddilas)
yang memberinya berbagai penampakan. Dengan demikian, maujud dengan
aneka wujud masing-masing kewujudan itu bebas dari yang lain.
Metafisika wujud Mulla Shadra ini dikembangkan berdasarkan pengalaman
tentang hkikat dan pembedaan husuli
tentang
wujud sebagai ada atau yang ada, dan gradasi yang dialaminya.
Berdasarkan hal tersebut, Mulla Shadra membedakan antara konsep wujud
(mafhum
al-wujud)
dan hakikat wujud (haqiqah
al-wujud).
Filsafat
kedua Mulla Shadra berkenaan dengan metafisika atau ontologi yang
membahas proses panjang sesuatu sampai pada tingkat kesatuan maujud.
Hal itu dimulai dengan pemahaman yang tuh apa itu eksistensi dan
esensi. Mulla Shadra telah memberikan finalisasi konsep tersebut.
Realitas sejarah menunjukkan hampir semua filsuf menjadikan objek
pertama pembahasannyaadalah tntang eksistensi dan esensi tentang
Ketuhanan. Bagi Aristoteles, substansi atau Dzat itulah yang
mempunyai eksistensi. Yang lainnya,yaitu kata kerja, kata sifat, dan
sebagainya merupakan keterangan alias aksiden yang ditambahakan atau
esensi yang melekat pada substansi.pngetahuan kita tentang substani
itu termasuk aksiden. Akan tetapi, pengetahuan kita tentang diri kita
termasuk esensi begitu juga pengtahuan Tuhan tentang diri-Nya.
Begitupula sifat-sifat Tuhan lainnya.[8]
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
Dari
Filsafat Mulla Sadra dapat di definisikan bahwa epistimologi Filsafat
dapat dibedakan menjadi kepada dua pembagian uatama: (1) bersifat
teoritis, yang mengacu kepada pengetahuan tentang segala
sesuatusebagaimana adanya. Perwujudannya tercermin dalam dunia asli,
termasuk jiwa di dalamnya sebagai dikemukakan oleh Al-Farabi dan
Ibn-Sina. (2) bersifat praktis, yang mengacu pada pencapaian
kesempurnaan-kesempurnaan yang cocok bagi jiwa. Perwujudannya adalah
mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan keberadaan wujud bahwa Segala
sesuatu diciptakan tersusun dari eksistensi (wujud) dan esensi
(mahiyah). Tetapi wujud mutlak samasekali bebas dari susunan seperti
itu dan memberikan kepada entitas yang diciptakan wujud yang
memilikinya melalui suatu proses penyinaran yang mirip dengan
penyinaran cahaya. Mulla Shadra pula tidak dapat mebuktikan adanya
keabadian waktu, bahwasannya mustahil keabadian waktu dan gerak
menjadi dasar tesis para filof itu (mungkin yang dimaksudkannya
adalah para filsof Neoplatonik Muslim) untukmenyatakan keabadian
alam. Satu-satunya wujud yang eksistensinya mendahului wakt dan gerak
adalah Tuhan yang menciptakan alam dengan memerintahkannya jadilah
alam tersebut. Dan karena waktu merupakan bagian alam, mustahil waktu
bisa mendahului perintah kreatif Tuhan (Amr) yang telah menimbulkan
kebradaannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Fakhry,
Majid. 1997. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Mizan
Media Utama.
Leaman,
Oliver. 1999. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Mizan Media
Utama.
Nasution,
Hasyimsyah. 2005. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Praja,
Juhaya.S. 2009. Filsafat
Islam.
Bandung: CV. Pustaka
Setia.
No comments:
Post a Comment
Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga bermanfaat.
Tinggalkan komentar dengan sopan.