2/22/2016

Menulislah !


Oleh Akhmad Yusuf

Kau sedang kemana hingga kertasmu kosong melompong? Begitulah sindiran yang di sampaikan oleh Fred Allen (1894-1956), komedian dan satiris asal Amerika Serikat kepada orang-orang yang enggan untuk menulis. Menulis merupakan media komunikasi antarsesama manusia dengan bahasa tulisan. Sebenarnya  media tulisan ini sudah lama di pakai oleh pendahulu kita sebelum ada handphone mereka menggunakan surat sebagai alat untuk berkomunikasi. Banyak faktor yang menyebabkan banyak mahasiswa tidak suka dengan menulis. Salah satunya yaitu ketakutan akan menulis. Tidak jarang mahasiswa merasa khawatir jika tulisan yang dibuatnya dinilai jelek oleh pembaca. Sebenarnya itu bukanlah masalah yang besar, karena penulis senior AS Laksana telah menasehati kita dalam buku Creative Writing-nya menganjurkan kita untuk mengawali menulis dengan buruk. Semua itu hanyalah proses, proses, dan proses seperti kata Danarto. Tingal bagaimana kemauan dari kita sendiri. Jadi, sebenarnya kita tidak perlu merasa takut dengan dunia tulis-menulis karena kita dapat berproses di dalamnya.
Selain ketakutan tersebut, menulis masih dianggap tidak begitu penting bagi mahasiswa. Baginya menulis hanyalah kegiatan yang terjadi didalam kelas ataupun saat ada tugas-tugas kuliah, tidak lebih. Itu sama saja dengan pola pikir yang di miliki oleh anak SMP atau SD. Padahal sebenarnya menulis tidak hanya itu-itu saja. Menulis juga bukan kegiatan yang hanya melatih tangan untuk bekerja, namun ada perpaduan antara pikiran dan hati yang saling berkesinambungan. Ada beberapa alasan mengapa mahasiswa harus bisa menulis. Diantaranya dari tulisan-tulisan yang telah dibuat akan memwakili bagaiamana pola pikir dari penulisnya. Apa wacana yang dibawa oleh penulis terlihat dari bentuk-bentuk tulisannya sehingga menunjukan wawasan dan dinamika yang dimiliki  penulis.
Dengan menulis kita sebenarnya bisa mengembangkan apa yang ada dalam pikiran dan hati kita yang kemudian dituangkan dalam media dengan rangkaian kata-kata. Diksi yang diambil tak perlu rumit sehingga dapat di mengerti oleh pembaca. Kita tidak perlu menggunakan bahasa ilmiah yang sulit terlihat intelek. Menulis bisa menjadi media penyalur aspirasi atau luapan perasaan si penulis dengan begitu orang lain bisa menjadi tahu apa yang ada dalam persaan kita. Marahkah, senang, atau sedih karena sakit hati. Kegiatan menulis sejatinya adalah tradisi intelektual bagi mahasiswa. Karena dengan membiasakan diri untuk menulis akan sangat baik untuk melatih daya ingat. Menulis juga berguna untuk mendokumentasikan pengetahuan dan ilmu yang telah kita dapat agar tidak lenyap begitu saja.
Menulis juga ibarat sedang mengukir sejarah. Bisa jadi apa yang telah kita tuangkan dalam tulisan akan menjadi bukti sejarah. Suatu hari nanti para penerus kita menemukan tulisan-tulisan yang telah kita buat dan dijadikan referensi dalam menatap jejak peristiwa yang terjadi dimasa lalu dalam tulisan kita. Tulisan membuat kita akan dikenang oleh zaman dan juga bisa bisa mewariskan cita-cita dan perjuangan kita kepada generasi penerus.  Ini sama sekali tidak melebih-lebihkan, karena sejarah juga telah membuktikan hal demikian bisa terjadi. Kita tahu bahwa Robert Einstein sebagai seorang tokoh fisikawan yang amat terkenal, ia tidak bisa di kenal oleh kita jika ia tidak menuliskan ratusan makalah yang di buatnya.
Kita tentu mengenal Soe Hok Gie, seorang aktivis yang suka mendaki gunung,  dia sangat bisa menjadi inspirasi yang telah memberikan contoh bahwa menulis sejatinya adalah bersifat membebaskan. Seperti Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Tour yang menjadikan tulisan-tulisan mereka sebagai bentuk perlawanan. Tulisan-tulisan itu seperti menjadi senjata yang ampuh untuk membuka mata hati para pembacanya.

Menulis itu Mudah
Menulis tidaklah sesulit yang sebagian orang bayangkan. Namun, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal yang penting dalam proses menulis adalah pertama kita harus rajin membaca, namun menurut Nh. Dini membaca merupakan kemewahan bagi 80% manusia Indonesia. Dari pernyataan tersebut sudah kelihatan bahwa membaca saja merupakan hal yang mewah apalagi dengan menulis? Hal ini berbeda dengan Jepang yang mempunyai budaya baca yang sangat tinggi, mereka dapat membaca di manapun ia mau bahkan di toilet pun ada yang menyempatkan untuk membaca.
 Ada seorang teman berkata berkata kepadaku “saya tidak bisa menulis” itu merupakan kesalahan pertama yang menjadikan dirinya semakin tidak mau untuk menulis. Toh selama ini kita masih bisa bercakap-cakap dengan teman, tentu menulis pun pasti bisa, karena menulis itu sendiri tak ubahnya dengan bercakap-cakap. Kita hanya perlu memindahkan saja ucapan yang kita lontarkan menjadi sebuah tulisan. Seperti Barbara Cartland yang telah menulis 623 novel selama hidupnya, ia hanya mendiktekan ucapannya kepada asisten steno, kemudian asisten lain memindahkan tulisan steno itu menjadi draft novel yang selanjutnya akan diedit oleh Barbara Cartland. Apa salahnya bila kita mencoba yang telah di lakukan Barbara Cartland, kita hanya perlu handphone untuk merekam lalu memindahkannya, sehingga tidak ada alasan untuk merasa sulit dalam menuliskan sesuatu yang ingin kita tuliskan. Memang ada beberapa hal yang seringkali dijadikan kendala dalam menulis, seperti adanya aturan ejaan yang disempurnakan (EYD) yang sering kita temukan dalam gaya penulisan ilmiah, namun sebenarnya  itu bukanlah suatu masalah yang besar karena menulis itu sendiri adalah bersifat pembelajaran. Dengan kita belajar dan berproses untuk bisa menulis dengan sendirinya kita akan menemukan kesalahan-kesalahan dari tulisan-tulisan yang telah kita buat. Dari yang mungkin asalnya acak-acakan karena lama-kelamaan menjadi terbiasa akhirnya mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut dan  tulisan yang kita ciptakan semakin hari menjadi semakin baik.


No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga bermanfaat.
Tinggalkan komentar dengan sopan.